Pendidikan Berawal dari Keluarga

Ibunya si dudung mengeluh anaknya bandel bukan main, kemudian keluhan bu dudung ditimpali lagi oleh ibunya si Juleha, “anak saya mah cewek lebih nakal lagi, pusing saya udah kasih nasehat ampe bebusa”. Itu baru sekelumit omongan ibu-ibu disela bergosip ria di sore hari (ga semua ibu2 lo:)).

Saat ini banyak orang tua mengeluh sampai nangis darah bahwa anaknya sulit diatur, suka membangkang, tidak tahu aturan, bahkan melawan orang tua. Anak yang dimaksud ini bukanlah anak umur balita, atau tk yang seringkali memang sulit diatur, tetapi anak yang sudah mulai beranjak dewasa, alias, abg, atau sudah mahasiswa atau malahan sudah meraih gelar sarjana dan sudah bekerja. Orang tua sering kebingungan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Sering juga kita mendengar bahwa anak-anak pejabat atau selebriti melakukan tindak kriminal yang sungguh memalukan,padahal pendidikan mereka cukup tinggi, apakah sebenarnya gerangan yang terjadi?

Pendidikan di dalam keluarga saat ini cenderung permisif, artinya orang tua cenderung membolehkan anak melakukan apa saja asalkan si anak senang. Beberapa hal bisa disebabkan oleh malasnya orang tua menghadapi kerewelan anak karena kecapaean bekerja sehingga akhirnya mengikuti semua kemauan anak, sehingga anak terbiasa dimanja dan mendapatkan keinginannya tanpa perjuangan. Kedua adalah orang tua yang beranggapan bahwa anak tidak boleh dilarang melakukan apa saja agar anak dapat berkembang dengan baik, menjadi kreatif dan percaya diri, tapi hal ini sebenarnya justru akan menjerumuskan si anak menjadi orang yang egois dan semau gw. Padahal sebenarnya tujuan orang tua sebenarnya agar anak mereka bisa berkembang dan dapat menjadi pribadi yang percaya diri.
Anak seperti ini seperti juga pola asuh yang pertama bisa menjadi calon kriminil di masa yang akan datang.

So, bagaimana seharusnya, mungkin diantara kita ada yang dididik dengan pola asuh yang otoriter sehingga kita melakukan sebaliknya pada anak kita supaya anak kita tidak merasakan apa yang kita rasakan atau justru karena kita merasa berhasil dididik dengan otoriter kita juga melakukan hal yang sama dengan pola asuh orang tua. Aduh… Pusing…:P

Pola asuh yang baik adalah pola asuh yang disiplin tapi baik artinya anak harus belajar tentang koneksi dari tingkah lakunya, bahwa sesuatu yang baik akan dibalas baik dan sesuatu yang tidak baik akan berakibat tidak menyenangkan. Nnnah,dari sini anak akan belajar mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Artinya kita bisa saja memberikan reward bila anak kita melakukan sesuatu yang baik, reward tidak harus berupa benda tetapi bisa ungkapan afeksi dan perlakuan yang menyenangkan seperti pujian atau melakukan kegiatan yang menyenangkan untuk si anak. Sebaliknya bila anak melakukan sesuatu yang kurang baik maka punishment bisa diberikan seperti kehilangan benda kesayanga, kegiatan yang menyenagkan dan lain-lain. Tapi ops, tentu saja jangan sampai kita menggunkan kekerasan pada anak seperti memukul dan membentak.. Yang penting adalah kesabaran…:)

Kreativitas

Add a comment 17 Januari 2010

Puisi di Hari ULTAHKU :-)

Saat Ku Dekat denganmu, Bergejolak Ribuan Rasa Menghantamku
Saat Ku Tatap matamu Tak Sanggup Ku Menahan Anganku
Tatapan Matamu, membuatku tersipu, membekukan hatiku
Saat Ku Jauh Darimu Rasa Rindu Merasuk di Jiwaku

Malam ini Bertabur Lilin-lilin kecil yang akan membahagiakan hati
Terimalah hadiah dariku ini, semoga dapat dikenang di Hati

Selamat UlanG Tahun Semoga Panjang Umur
dan Semoga Tuhan selalu memberikan RahmatNya pada Kamu🙂

dikau adalah berarti, walau semuanya telah berlalu saat umurku bertambah,maka dirimu juga akan selalu teringat🙂

Thanks y?
To Erwin Indrayana🙂

Ultahku

Add a comment 27 Desember 2009

Perkakas ‹ Dewijetplane’s Blog — WordPress

Perkakas ‹ Dewijetplane’s Blog — WordPress.

Add a comment 27 Desember 2009

MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR ANAK

Menumbuhkan minat belajar anak sebetulnya tidak terlalu sulit. Kenali apa yg disukai dan ajak dia melakukan hal tersebut. Niscaya minat belajarpun meningkat.

Kuncinya adalah mengetahui apa yg dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun kebawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Indonesia Dhanang Sasongko berpendapat, sifat dasar anak adalah senang belajar. Itu bisa terlihat sejak usia dini. Dimulai dari anak belajar berjalan, dia jatuh dan bangkit lagi atas kemauan sendiri.

Sayangnya, lanjut dia, ketika anak menginjak usia empat tahunan, banyak terjadi intervensi orang dewasa, dalam hal ini orang tua. Dengan begitu minat belajar anak sesungguhnya itu menjadi terintervensi. Anak belajar karena kewajiban dan dorongan dari orang tua. “Akhirnya dia menjadi tertekan,” kata Dhanang.

Prinsip dasar belajar anak-anak haruslah menyenangkan . Karena dengan belajar menyenangkan akan menumbuhkan emosional yg positif. Dalam proses belajar, anak harus diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Sebaiknya anak belajar atas inisiatif diri sendiri.

Bila dalam proses belajar, si anak menjadi objek, maka yang banyak melakukan intervensi adalah pendidik. Si anak dijadikan robot dan terlalu banyak diarahkan oleh pendidik. Hasilnya akan membuat anak menjadi malas belajar, belajar tidak efektif.

Dalam system belajar, anak harus ikut terlibat dlm proses pembelajaran. Salah satu caranya mungkin sebaiknya dlm satu kelas jangan sampai terlalu banyak siswa. Problem yg akan terjadi akan ada anak-anak yg merasa tidak diperhatikan. Dengan begitu minat belajarnya karena keterpaksaan.

Solusinya, guru dituntut punya kompetensi dengan kondisi-kondisi yg terjadi sekarang ini. Guru perlu memahami bahwa anak didiknya adalah subjek. “Secara psikologi, guru-guru juga harus memahami keanekaragaman minat belajar anak,” ujar Dhanang.

Dia menyarankan , dalam proses belajar perlu dikembangkan metode pelajaran tematik yg aplikatif. Ada pembahasan-pembahasan atas sebuah masalah. Misalkan soal banjir, mungkin saja dari pembahasan itu mundul ide-ide yg luar biasa dan cemerlang dari anak. Atau dlm pelajaran mengenai stek tumbuhan, anak-anak bisa diajak untuk mempraktikkan langsung dilapangan.

Kalaupun tidak bisa melakukan kegiatan praktik diluar ruang, bisa saja dengan cara menyajikan sejumlah materi tematik dan contohnya via media visual di dalam kelas.

Sebagai contoh, Dhanang menunjukkan apa yg sudah dilakukan di sekolah-sekolah alam. Ternyata anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran dengan baik dan menyenangkan.
“Belajar tidak hanya teori. Teori dibutuhkan dalam rangka mengejar standardisasi kurikulum. Tapi untuk mencapai tujuan-tujuan itu, perlu ada media belajarnya yg menyenangkan bagi anak,” kata Dhanang.

Sementara itu, marlina, guru sekolah rumah di Perumahan Bumi Sawangan Indah Depok, mengaku punya trik jitu dlm mengajak anak agar tertarik belajar. Sebelum mulai mengajar, terlebih dulu dia harus mengetahui hal-hal apa saja yg disukainya dan tidak disukai.

“Nah, dari situ bila ada anak yg sedang malas belajar, saya mengajak dia melakukan suatu kegiatan yg disukainya,” katanya. Misalnya anak suka menggambar, sebelum mengajak si anak belajar, terlebih dulu dia di ajak menggambar beberapa saat. Selanjutnya , setelah mood belajarnya bangkit. Barulah si anak diajak belajar lagi.

REWARD YES, PUNISHMENT NO

Sebisa mungkin orang tua memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yg dilakukan. Sebaliknya sedapat  mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab, hukuman yg kelewat batas akan membuat harga diri anak down atau turun.

“Jenjang pendidikan anak masih jauh dan panjang, hasil sebuah proses belajar tidak bisa diukur oleh satu hari, satu minggu atau satu bulan. Tapi merupakan proses berkelanjutan. Untuk itu orang tua perlu memberikan reward dan dorongan, “kata Dhanang Sasongko, sekjen Asah Pena Indonesia .

Menurut dia, dasar untuk mendorong minat belajar anak, kita perlu meningkatkan rasa percaya diri anak. Sebagai contoh : bila anak mendapat nilai matematika jelek, 4, orang tua dpt mendorongnya dengan mengatakan: “Oh iya putra/i dapat nilai 4 ya. Tidak apa-apa dulu ayah/ibu juga pernah kok dpt nilai 4 tapi setelah mencoba memperbaikinya, ternyata ayah bisa berhasil dapat angka 8.

Seorang anak tidak mungkin dapat menguasai semua mata pelajaran. Mungkin ada anak yg unggul disatu pelajaran lain. Kemudian orang tua justru memberikan anak les dipelajaran yg lemah tadi. Sedangkan pelajaran yg unggul justru dilupakan.

Menurut Dhanang , ditinjau dari sudut perkembangan anak , apa yg dilakukan orang tua tadi agak keliru . Kenapa bukan keunggulan si anak tadi yg diasah dan dikembangkan terus. Nah, yg kurang itu hanya sebagai pelengkap.

“Jangan sebaliknya malah yg kurang didorong terus dan dipaksakan sehingga anak menjadi tertekan. Akhirnya, anak menjadi stress dan keunggulannya pun akhirnya hilang,” ujarnya.

Mengenai bentuk reward yg kerap diberikan orang tua ketika anaknya berhasil dalam pelajaran sekolah, Dhanang berpendapat, hal itu boleh-boleh saja sejauh dalam rangka menunjang kegiatan belajar si anak.

Namun, dia mengigatkan, sebisa mungkin nilainya tidak terlalu mahal dan terkesan wah bagi si anak. Ini dimaksudkan agar anak punya standar keinginan atas reward-nya . “Reward diberikan hanya dalam rangka memotivasi anak,” tegasnya

Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang kepada anak. Terkadang anak berbuat baik, orangtua tidak memberikan reward karena hal itu dianggap biasa saja, tapi manakala si anak berbuat tidak baik, maka orang tua memberikan reaksi luar biasa dengan memberikan punishment.

Dhanang mengatakan, orang tua harus mengubah paradigma terhadap anaknya. Bahwa anak berbuat baik itu bukanlah hal yg biasa, tapi merupakan suatu hal yg luar biasa.

1 komentar 22 Desember 2009

POLA PENDIDIKAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK

Tugas Individu

POLA PENDIDIKAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK

Makalah Ini disusun dalam rangka memenuhi tugas akhir Mata Kuliah PIP (Pengantar Ilmu Pendidikan)

Dosen Pengampu : Ibu Tri Murtiningsih

Nama    : Dewi Cahyaningsih

NIM      : 1401409158

Rombel  : 40

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah saya sampaikan kepada Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayahNya saya dapat menyusu makalah ini sesuai dengan waktunya. Sehubungan dengan berakhirnya waktu tatap muka Mata Kuliah PIP ( Pengantar Ilmu Pendidikan ), maka makalah ini saya susun sebagai pemenuhan tugas akhir semester gasal ini terkhusus kepada Ibu Tri Murtiningsih selaku dosen pembimbing Mata Kuliah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua serta memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang dunia pendidikan yang tidak dapat terpisah dari kehidupan kita semua. Di samping itu saya menyadari bahwa penyusunan serta penyajian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang dapat memberikan perbaikan bagi penyempurnaan makalah ini sangat saya harapkan. Sekian terima kasih.

Penulis,

Semarang,   Januari 2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Disebut sebagai lingkungan pendidikan atau lembaga pendidikan pertama karena sebelum manusia mengenal lembaga pendidikan yang lain, lembaga pendidikan inilah yang pertama ada. Selain itu manusia mengalami proses pendidikan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan pertama kali adalah dalam keluarga. Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, di samping terdapat faktor lingkunga lain,  keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah. Terlebih pada prestasi anak tersebut sendiri di bangku sekolah.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah kedudukan keluarga sebagai wahana pertama dan utama pendidikan karakter anak ?
  2. Apa sajakah aspek-aspek penting dalam pendidikan karakter anak ?
  3. Bagaimanakah hubungan antara pola asuh keluarga dengan prestasi belajar anak ?

1.3 Tujuan

  1. Mengetahui sejauh mana kedudukan keluarga sebagai wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter anak.
  2. Memahami secara jelas aspek-aspek dalam pendidikan karakter anak.
  3. Mengetahui secara pasti dan dapat memahami hubungan yang terbentuk antara pola asuh keluarga dengan prestasi belajar anak.

BAB II

ISI

  1. A. KELUARGA SEBAGAI WAHANA PERTAMA DAN UTAMA PENDIDIKAN KARAKTER ANAK

Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter.  Karakter didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pihak. Sebagian menyebutkan karakter sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas moral dan mental, sementarayang lainnya menyebutkan karakter sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya merubah atau membentuk karakter hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang (encyclopedia.thefreedictionary.com, 2004). Coon (1983) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorangyang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Sementara itu menurut Megawangi (2003), kualitas karakter meliputi sembilan pilar, yaitu (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; (2) Tanggung jawab, Disiplin dan Mandiri; (3) Jujur/amanah dan Arif; (4) Hormat dan Santun; (5) Dermawan, Suka menolong, dan Gotong-royong; (6) Percaya diri, Kreatif dan Pekerja keras; (7) Kepemimpinan dan adil; (8) Baik dan rendah hati; (9) Toleran, cinta damai dan kesatuan. Jadi, orang yang memiliki karakter baik adalah orang yang memiliki kesembilan pilar karakter tersebut. Pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson yang terkenal dengan teori Psychososial Development juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981). Dengan katalain, Karakter, seperti juga kualitas diri yang lainnya, tidak berkembang dengan sendirinya. Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) yang dimulai dari lingkungan keluarga anak tersebut berada dan faktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, ( Confusius ) seorang filsuf terkenal Cina menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan dimulai dari keluarga sebagai wahana utama dan pertama, kemudian sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sangat berperan penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Dalam hal pembinaan karakter ini sendiri keluarga berperan memberikan pelajaran mengenai aturan main segala aspek yang ada di dunia ini, serta memberikan pemahaman mengenai aturan main dalam hubungan kemasyarakatan. Aturan main disini Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta, 1992), didefinisikan sebagai  aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang adil dan apa yang tidak adil, apa yang patut dan tidak patut. sehingga nantinya mampu menanamkan dan mengaplikasikan aturan main tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

  1. B. ASPEK-ASPEK PENTING DALAM PENDIDIKAN KARAKTER ANAK

Dalam membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental.
1. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya), merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa percaya.Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.

2. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal.

3. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Menurut pakar pendidikan anak, seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif.

  1. C. POLA ASUH KELUARGA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK

C.1  POLA ASUH DALAM KELUARGA

Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) serta implementasinya terhadap prestasi belajar pada anak, sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Secara umum Hurlock juga Hardy & Heyes mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis yaitu: (1) Pola asuh otoriter, (2) Pola asuh permisif, dan (3) Pola asuh otoritatif ( demokratis ).

  1. 1. OTORITER

Yang dilakukan orang tua:

1) Memberikan tuntutan yang sangat tinggi terhadap kontrol dan disiplin kepada anak, tanpa memperlihatkan ekspresi cinta dan kehangatan yang nyata.

2) Menuntut anak untuk mengikuti standar yang ditentukan tanpa mengizinkan anak untuk mengungkapkan perasaannya.

3) Ingin anak mengikuti kehendaknya tanpa banyak bertanya. 4) Menutup diri dan menolak adanya diskusi.

Pengaruhnya pada anak:

1) takut memperlihatkan hasil karyanya, karena takut dikritik yang akan diterimanya.

2) Tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

3) Tidak memiliki masalah dengan pergaulan kenakalan remaja.

4) Tapi memiliki pribadi yang kurang percaya diri, ketergantungan dengan orang tua tinggi, dan lebih mudah mengalami stress.

2.  PERMISIF

Yang dilakukan orang tua:

1) Cenderung menghindari konflik dengan anak.

2) Membiarkan anak untuk melakukan apa pun yang diinginkan oleh anak.

3) Tak memberikan batasan yang jelas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

4) Takut memberikan larangan karena dianggap terkesan tidak mencintai anak.

Pengaruhnya pada anak:

1)      Merasa boleh berbuat sekehendak hatinya.

2)  Memiliki rasa kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi yang cukup besar.

3) Namun akan mudah terseret pada bentuk kenakalan remaja dan memiliki prestasi sekolah  yang rendah. Anak tidak mengerti norma-norma social yang harus dipenuhinya.

4) Anak menjadi bingung, karena ia merasa tidak salah tetapi mendapat penilaian buruk dari orang lain akibat kurangnya pemahaman terhadap norma yang dimilikinya.

3. OTORITATIF ( DEMOKRATIS )

Yang dilakukan orang tua:

1)     Memberi kontrol terhadap anak dalam batas-batas tertentu, dengan tetap memberikan dukungan, kehangatan dan cinta kepada anak.

2)        Memonitor dan menjelaskan standar dengan tetap memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi.

3)        Menghargai prestasi yang telah dicapai anak, sekecil apa pun yang telah diperlihatkan oleh anak.

Pengaruhnya pada anak:

1)      Merasa bahwa dia dihargai.

2)  Dapat berdiskusi dengan leluasa dengan orang tua tanpa takuit dikritik atau disalahkan.

3)  Merasa bebas mengungkapkan kesulitannya, kegelisahannya kepada orang tua karena ia tahu bahwa orang tua akan membantu memberikan jalan keluar tanpa mendiktenya.

4)  Tumbuh menjadi individu yang mampu mengontrol dirinya sendiri, betanggung jawab dan mampu bekerjasama dengan orang lain.

Pada intinya Pola asuh demokratis mempunyai ciri :
1) Ada kerjasama antara orangtua – anak.

2) Anak diakui sebagai pribadi.

3) Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua

.4) Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.

Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. Sementara, orangtua yang otoriter merugikan, karena anak tidak mandiri, kurang tanggungjawab serta agresif, sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah.

Menurut Arkoff (dalam Badingah, 1993), anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.

Menurut Middlebrook (dalam Badingah, 1993), hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena :

(a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar)

(b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif

(c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya, misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada

(d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak.

Dalam Teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory)- menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya, akan mempengaruhi perkembangan emosi, perilaku, sosial-kognitif, dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang, baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang, kata-kata yang membesarkan hati, dorongan, dan pujian), maupun secara fisik (diberi ciuman, elusan di kepala, pelukan, dan kontak mata yang mesra). Sementara, anak yang ditolak adalah anak yang mendapat perilaku agresif orang tua, baik secara verbal (kata-kata kasar, sindiran negatif, bentakan, dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati), ataupun secara fisik (memukul, mencubit, atau menampar). Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect, yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin, atau bersifat undifferentiated rejection, yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat, tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua, walaupun orang tua tidak merasa demikian.

Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberi dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri, atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung, dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya, bersikap sangat agresif kepada orang lain, atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga.

Dari paparan di atas jelas bahwa jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak. Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.
Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya, yaitu :

1. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik.
2. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya.
3. Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan anak, dan berkata-kata kasar.
4. Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan lainnya.
5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini.
6. Tidak menanamkan “good character’ kepada anak.

Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, menurut Megawangi akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah.

1.Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. la kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain.
2. Secara emosiol tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.
3. Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik.
4. Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna.
5. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti rasa tidak aman, khawatir, minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang lain sedang mengkritiknya.
6. Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain.
7. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan lainnya.
8. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada “peer group”nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif.

C.2  PRESTASI ANAK

Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S Nasution (1996) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan siswa yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar adalah dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

C.3  PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PRESTASI SISWA

Dari 10 responden yaitu siswa dengan ranking 5 besar di sekolah usia antara 14 sampai dengan 17 tahun , yang kami beri questionnaire maka diperoleh kesimpulan bahwa 100 % mereka memahami peranan orang tua ideal dan 90 % menyatakan bahwa orang tua mereka merupakan sosok orang tua yang ideal buat mereka karena bagi mereka orang tua adalah yang memberikan kasih sayang, mendidik, mengarahkan dan membimbing mereka menjadi anak yang lebih baik dan bermanfaat. Penanaman sikap disiplin, menerima apa adanya, memberikan motivasi berprestasi serta aspek spiritual kepada anak diakui merupakan dasar pembentukan karakter anak berprestasi. Aspek psikis dan spiritual pada anak yang dihasilkan oleh orang tua dengan pola asuh otoritatif sangat menunjang secara signifikan prestasi anak. Responden menyatakan 100 % orang tua mereka menanamkan sikap – sikap seperti tersebut diatas dan mereka juga memahami alasan sikap orang tua menanamkan perilaku tersebut kepada mereka. Kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan di luar sekolah yang mereka ikuti dan mendapatkan prestasi  selain kegiatan akademik mereka, dari 10 responden menyatakan 50 % mereka mengikuti dan berprestasi dan 50 % mereka tidak mengikuti dengan alasan di sekolah tidak terdapat ekstrakurikuler. Penghargaan terhadap prestasi anak juga dilakukan oleh orang tua dengan pola asuh otoritatif walaupun hanya dengan ucapan selamat atas prestasi yang mereka peroleh. Sikap orang tua tersebut akan memberikan efek psikologis bahwa mereka merasa dihargai eksistensinya dan menjadikan mereka lebih termotivasi untuk berprestasi lebih baik lagi.

Ketika anak mempunyai masalah dengan sekolah, hubungan dengan seseorang dan lingkungannya, responden menyatakan 40 % mereka lebih suka/nyaman membicarakannya dengan orang tua karena orang tua lebih bisa menyimpan rahasia pribadi dan memberikan solusi, nasehat untuk membantu menyelesaikan masalah. Sedangkan 60 % mereka lebih suka curhat dengan temannya dengan alasan karena teman atau sahabat mereka menjadi tempat berbagi cerita dan menjadi kepercayaan mereka. Orang tua dengan pola asuh otoritatif bersikap responsif terhadap kebutuhan anak dan mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan. Dari 10 responden 100 % mereka menyatakan bahwa orang tua mereka mau mendengarkan pendapat, solusi dan berdiskusi terhadap suatu hal atau masalah. Sikap orang tua tersebut akan memberikan efek rasa percaya diri anak terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Dengan berdiskusi memberikan ruang bagi orang tua untuk memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan buruk bagi anak dan anak pun memahami sikap dan alasan orang tua terhadap mereka. Sehingga hal ini akan memberikan kepercayaan anak terhadap orang tua bahwa mereka mendukung sepenuhnya aktivitas mereka dan harapan akan menjadi orang yang berhasil dan bermanfaat.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Keluarga merupakan lingkungan sekaligus wadah yang pertama dan utama yang memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kerakter sekaligus prestasi anak. Hal ini meliputi upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengajarkan aturan main yang berlaku dalam kehidupan di dunia maupun di dalam kehiduoan bermasyarakat melalui pola-pola interaksi yang berlangsung antara orangtua dengan anak atau yang lebih dikenal dengan pola asuh. Pola asuh yang berbeda antara orangtua masing-masing anak akan berprngaruh pada hasil karakter yang terbentuk dalam diri anak yang bersangkutan. Ada yang berdampak positif dan juga negatif tergantung pola mana yang dipilih orangtua tersebut. Setelah didasarkan dengan penelitian yang ada pola sauh demokratis lebih berdampak positif di banding pola asuh yang lain.

Sebagai saran yang ingin saya sampaikan mungkin dalam mendidik anak orang tua dapat melakukan hal-hal berikut sebagai pertimbangan, yaitu antara lain :

  1. Harus disertai kasih sayang
  2. Tanamkan disiplin yang membangun
  3. Luangkan waktu kebersamaan dengan keluarga
  4. Ajarkan salah benar
  5. Kembangkan sikap saling menghargai
  6. Perhatikan dan dengarkan pendapat anak
  7. Membantu mengatasi masalah
  8. Melatih anak mengenal diri sendiri dan lingkungnan
  9. Mengembangkan kemandirian
  10. Memahami keterbatasan pada anak
  11. Menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Munip, Drs. Achmad. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT. UNNES Press.

Pendidikan Karakter pada Anak diunduh dari http://sekolahmutiarabunda.wordpress.com/2009/06/12/membentuk-citra-diri-yang-baik-melalui-pola-asuh-dalam-membesarkan-anak/

Pengaruh pola asuh anak terhadap prestasi siswa diunduh dari http://www.psb-psma.org/content/blog/pengaruh-pola-asuh-anak-terhadap-prestasi-siswa

Tumbuh Kembang Anak diunduh dari http://www.tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/2008/03/pendahuluan-saat-di-layar-televisi-kita.html

2 komentar 22 Desember 2009

Anak IQ Tinggi Miliki Pola Perkembangan Otak Yang Berbeda

KapanLagi.com – Tingkat kecerdasan memiliki kaitan lebih banyak dengan bagaimana otak mengalamai perkembangan dan bagaiamana otak berkembang pada masa remaja secara keseluruhan bentuk dan ukurannya, demikian para ilmuwan menyimpulkan dalam hasil laporan penelitian mereka Selasa (4/4/06).

Dengan menggunakan penggambaran gelombang magnetic para ilmuwan di Institut Kesehatan Amerika Serikat, NIH, di Bethesda, Maryland memperlihatkan bahwa otak anak-anak ber-IQ tinggi memiliki pola perkembangan otak yang beda.

Cortex atau lapisan luar otak mulai membentuk lapisan tipis kemudian menjadi tebal secara lebih cepat pada anak-anak cerdas dan mencapai puncaknya pada usia 11 atau 12 tahun sebelum menjadi menipis secara cepat pula pada usia akhir remaja.

“Kami menemukan bahwa cortex memperlihatkan pola perkembangan yang berbeda,” kata Philip Shaw ketua tim peneliti yang menjadi ketua tim penulisan laporan ilmiah yang dimuat pada jurnal kesehatan Nature dalam satu wawancara.

Anak-anak dengan kecerdasan rata-rata memiliki cortex yang lebih tebal pada saat mulai mengalami perkembangan otaknya serta mencapai puncak lebih awal sebelum proses penipisan dimulai.

Shaw menambahkan bahwa perubahan tersebut sangat tajam dan apa yang menjadi penyebabnya masih merupakan teka-teki. Mengapa seorang anak memiliki cortex yang lebih tebal atau lebih tipis juga belum diketahui.

“Tingkat kecerdasan tinggi tidak melulu ditentukan tebal atau tipisnya cortex namun juga sangat erat dengan dinamika dari kematangan cortex,” kata Judith Rapoport, salah satu anggota tim peneliti.

Para ilmuwan menemukan kaitan antara kecerdasan dan perkembangan otak dengan melakukan scaning MRI terhadap 307 anak-anak yang sehat mulai dari usia anaka-anak hingga remaja, kisaran umur 5-19, dengan selisih dua tahun.

Mereka membandingkan hasil scan untuk melihat kaitannya dengan tingkat kecerdasan, anak-anak yang sangat pintar memiliki angka tingkat kecerdasan antara 121-145 sementara yang cerdas angkanya 109-120 dan kecerdasan rata-rata pada angka 83-108.

Anak-anak yang paling pintar menunjukkan tingginya perubahan cortex pada hasil scan-nya. Para ilmuwan yakin semakin lama terjadi proses penebalan cortex pada anak-anak sangat pintar menunjukkan semakin lama pula terjadi perkembangan di wilayah daya cognitive pada otak si anak.

Para peneliti juga menambahkan proses penipisan akan melibatkan merupakan proses dimana terjadinya pembabatan atau matinya sel otak sebagaimana terjadinya proses kematangan otak sehingga kerja otak jauh lebih efisien.

“Hal tersebut yang kemungkinan terjadi pada sebagian besar anak-anak yang pintar,” kata Shaw sambil menambahkan mereka-mereka yang yang memiliki daya pikir yang cepat juga memiliki cortex dengan kemampuan yang cepat pula. (ap/rtr/rit)

Add a comment 15 Desember 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar 15 Desember 2009

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts